SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

Kuantitas dan Kualitas Tenaga TIK Timpang

Pesatnya teknologi informasi dan komunikasi tak terkejar perubahan kurikulum TIK yang lamban.

LINE it!
Kuantitas dan Kualitas Tenaga TIK Timpang
SHENZEN - Perguruan tinggi semakin ketinggalan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat pesat, kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika Aizirman Djusan. Padahal, secara jumlah, lulusan tenaga TIK Indonesia cukup memadai.

"Sebenarnya 250 program studi di perguruan tinggi di Indonesia meluluskan 300 ribu tenaga TIK per tahun sehingga secara kuantitatif cukup," kata Aizirman di sela penutupan program "Telecom Seeds for the Future" di Kantor Pusat pabrik Huawei di Shenzhen, China, Jumat (21/11).

Namun, secara kualitatif, menurut dia, kurang, karena perkembangan TIK sangat pesat dan cepat berubah. Sementara, untuk mengubah dan menambah kurikulum dan program studi dalam rangka mengikuti perkembangan tersebut cukup lamban.

"TIK berkembang makin pesat beberapa tahun terakhir ini dan sulit dikejar oleh perguruan tinggi. Karena itulah, program semacam yang dilakukan Huawei ini bisa membantu lulusan dan mahasiswa kita jadi semakin paham perkembangan baru TIK sebelum memasuki dunia kerja," kata dia.

Program beasiswa pelatihan di Kantor Pusat Huawei di Shenzhen, China, selama satu minggu, merupakan kegiatan CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) Huawei yang diikuti 15 peserta dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Telkom (ITT).

Aizirman berharap, dengan pelatihan semacam ini, lulusan universitas akan lebih siap. Apalagi, pada 2015, Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN sehingga harus bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara ASEAN lain yang mengisi pasar kerja di dalam negeri dan ditantang untuk juga mengisi pasar ASEAN.

"Saya harap perusahaan-perusahaan TIK lainnya yang berinvestasi di Indonesia mengikuti jejak Huawei yang memiliki fokus program pada pengembangan SDM TIK. Produk peralatan TIK Huawei memang digunakan 50-60 persen operator telepon di Indonesia," kata dia.

Sementara itu, Satrio Danuasmo, peserta dari ITB  mengatakan ilmunya tentang TIK semakin bertambah, khususnya karena di kantor pusat Huawei ia bisa melihat langsung pabrik dan laboratoriumnya yang memiliki peralatan lengkap.

"Sebenarnya pelajarannya mirip dengan yang diajarkan di kampus, tapi saya bisa lebih melihat praktik langsung tentang teknologi LTE, networking, optik, dan lain-lain. Sayangnya, terlalu singkat sehingga banyak topik yang dilompati," ujar Satrio.

Ia juga menyatakan sangat terkesan dengan budaya China dan iklim kerja di Huawei, seperti prinsip kerja keras, efisien, konsisten, dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.

"Perusahaan ini baru berdiri pada 1988 oleh enam orang dengan modal 1.500 dolar AS, tapi sekarang pendapatannya sudah 11.000 kalinya, dengan karyawan sekitar 150.000 orang. Ini bisa menjadi bekal semangat bagi saya," kata dia.
Publish: 00 0000
Sumber : Ant

2261 Tayang