SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

Generasi “Nunduk”, Tidak Saling Mengenal

Mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan.

LINE it!
Generasi “Nunduk”, Tidak Saling Mengenal
Di zaman serba canggih ini manusia justru diperbudak teknologi, termasuk oleh ponsel pintar. Menurut riset yang dilakukan Google bersama TNS Australia pada Juni 2015 menunjukkan hampir 50% dari seluruh penduduk Indonesia menggunakan ponsel pintar sebagai alat komunikasi utama. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di kawasan Asia.

Fungsi utama ponsel awalanya untuk menerima panggilan masuk dan keluar serta berkirim pesan. Namun seiring perkembangan zaman, lahirlah ponsel pintar dengan fungsi lebih beragam. Smartphone memungkinkan kita untuk melakukan pencarian informasi lintas dunia universal (browsing), chatting, panggilan video, transaksi, jual-beli, dan lainnya.

Tapi makin berkembangnya teknologi membuat manusia makin kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Hadirnya ponsel pintar yang dilengkapi dengan berbagai macam aplikasi membuat manusia lupa akan dunia nyata. Ponsel pintar seakan menjadi kebutuhan utama setelah makan dan minum.

Ponsel pintar yang tadinya memiliki tujuan utama untuk mendekatkan yang jauh, pada era ini justru turut menjauhkan yang dekat. Mereka selalu nunduk dan fokus dengan ponsel pintar yang mereka miliki.

Bahkan di tempat keramaian seperti angkutan umum. "Keramaian"-nya terbentuk dari jumlah orang yang ada. Sementara suasan di dalamnya kini hening. Semuanya nunduk, sibuk dengan ponsel pintar masing-masing. Manusia jadi malas berbicara. Manusia seakan tak lagi membutuhkan pertolongan orang lain karena hadirnya berbagai aplikasi.

Penghuni Kampus Kampus masih ada bawa-bawa buku ke kampus? Masih suka mencatat deskripsi tugas dari dosen di kertas? Masih suka nanya tugas ke dosen secara langsung? Dengan gadget atau ponsel pintar yang Penghuni kampus punya, sudah bisa melakukan semua itu.

Penghuni Kampus bisa belajar lewat browsing di ponsel pintar, bisa mencatat tugas di ponsel pintar, dan bisa nanya tugas sama dosen lewat Whatsapp, BBM, Line atau aplikasi obrolan lainnya.

Ketergantungan terhadap ponsel pintar membuat kita tidak saling mengenal. Bahkan ada dosen yang sudah bertahun-tahun mengajar namun tidak mengenal mahasiswanya, begitu juga sebaliknya. Itu semua karena apa? Itu semua karena kita tidak memperhatikan lingkungan, selalu nunduk dan terbuai dengan hadirnya ponsel pintar saat ini.

Cukuplah ponsel pintar sebagai alat komunikasi. Bukan malah menghambat kita untuk bersilaturahmi dengan sesama. Ponsel pintar adalah wadah kita berinteraksi di dunia maya. Tapi jangan sampai membunuh kegiatan kita di dunia nyata. Penghuni Kampus harus ingat berinteraksi secara langsung secara tatap muka jauh lebih baik. Lewat interaksi langsung, kita tahu bagaimana bahasa tubuh atau emosi lawan bicara.

Lagipula waktu hidup kita sangat terbatas. Sayang sekali kalau hanya diisi dengan asyik sendiri bareng ponsel pintar. Sebelum menyesal, mari kita kendalikan teknologi, bukan dikendalikan teknologi.


*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila.

Editor: Shelma Aisya.
Publish: 10 Desember 2015
Sumber : Sinar Harapan
Penulis/ Editor : Sari Mona Pratama*

4843 Tayang