SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

MEA di Depan Mata

UGM ingatkan Maba persaingan semakin ketat.

LINE it!
MEA di Depan Mata
Baru-baru ini ada berita menghebohkan dari salah satu kampus ternama Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM berhasil membentuk logo ASEAN di lapangan Grha Sabha Pramana-nya saat penutupan rangkaian acara PPSMB 2015 (Pelatihan Pembelajaran Sukses bagi Mahasiswa Baru). PPSMB tersebut diselenggarakan enam hari. 

Ada fakta unik tentang penamaan kegiatan orientasi mahasiswa baru itu. Nama PPSMB dipilih untuk menimbulkan kesan positif pada mahasiswa karena nama ospek kini terlalu identik dengan perploncoan senior-junior. PPSMB UGM ini pun dikemas secara menyenangkan. Bahkan, banyak hiburan dan makanan gratis yang tersedia bagi mahasiswa baru.

Beberapa mungkin penasaran, terutama mahasiswa dari kampus lain. Bagaimana mereka bisa membentuk logo ASEAN yang utuh dan tanpa cela, bahkan bisa berubah menjadi warna bendera merah putih? Ternyata, untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa, dibutuhkan sebuah proses yang rumit.

Menurut pengakuan seorang mahasiswa baru UGM, Belinda Ramadhanty Harun (Abel), mahasiswa baru Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik UGM, logo ini dibentuk karena tahun penyelenggaraan PPSMB sama dengan tahun dimulainya program Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Secara tidak langsung, UGM menyatakan kesiapan mereka untuk bersaing di tingkat ASEAN.

Prosesnya terbilang cukup rumit. Menurut pengakuan Abel, pertama, seluruh mahasiswa baru dibagi berdasarkan gugus. Setiap gugus membuat caping berwarna tertentu, seperti merah, kuning, dan biru. Selain itu, mereka membawa pompom merah atau putih. Setelah itu, mereka memenuhi lapangan Grha Sabha Pramana yang sebelumnya sudah dikelilingi tali rafia untuk membentuk logo ASEAN. Tak hanya dengan bantuan rafia, panitia PPSMB ikut memberi komando di lapangan dan jumlah panitia yang mengoordinasi tidak sedikit. 

Menurutnya, hal yang paling seru adalah ketika logo ASEAN selesai terbentuk. Ketika itu, ada medley lagu daerah dan mereka harus mengikuti gerakan kakak tingkat mereka yang berdiri di pinggir logo. "Terus kita bikin ombak dari pompom juga. Waktu itu, ada beberapa kakak tingkat yang lari, kalo kakak tingkat itu lewat di bagian kita, kita harus berdiri angkat pompom deh," ujarnya semangat.
"Pas di lapangan sih biasa aja, udah capek gitu. Pas liat videonya, ternyata keren banget," tuturnya lagi.

Abel mengaku, sampai hari ini, ia dan mahasiswa baru lainnya masih merasakan euforia hari penutupan PPSMB tersebut karena rasa bangga yang mendalam terhadap almamater mereka.

"Sampe hari ini masih kerasa euforianya. Soalnya, pasti bangga kan tuh, langsung gercep unggah foto-foto di media sosial," ujarnya sambil menunjukan fotonya bersama teman-teman mahasiswa baru lainnya.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Inggris, Universitas Indonesia.

Editor: Ayu Maharani
Publish: 27 Agustus 2015
Sumber : Sinar Harapan
Penulis/ Editor : Juaneitta Tyas Damayanti*

1594 Tayang