SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

Senioritas yang Positif

Kami tidak memperbolehkan memanggil “kakak”

LINE it!
Senioritas yang Positif Tim Interaksi Penghuni Kampus (IPK) Sinar Harapan berkesempatan berbincang dengan Binar Murgati Pardini mengenai relasi senior dan junior di kampus. Binar menceritakan kehidupan kampusnya dan serba-serbi hubungan senior dan junior. Perempuan kelahiran 31 Mei 1993 ini memiliki pandangan yang menarik tentang tongkrongan sebagai salah satu sarana mahasiswa untuk berkumpul.

1.     
Bagaimana hubungan kamu dan senior ketika kamu masih berstatus mahasiswa baru (maba)?
Baik, karena ketika masuk kuliah, kami ada perkenalan semacam ospek. Nah, ospek itu, kan, jadi sarana yang diberikan kampus untuk kita kenalan sama senior dan segala macamnya. Akhirnya, terjalin hubungan yang cukup baik, sih, karena seniornya ngasih tips kuliah itu bagaimana dan dosen itu seperti apa.

2.     
Selain ospek tadi, ada sarana lain untuk menyesuaikan diri dengan senior?

Secara pribadi, sih, gue merasa punya ruang untuk menyesuaikan diri dari tongkrongan. Kami nongkrong di satu tongkrongan yang sama dan nggak mungkin diem-dieman saja, kan, selama empat tahun kuliah, pasti ada kenalan gitu sama kakak kelas. Nah, di situ terjalin, deh, komunikasinya. Di ranah publik itu, sih, tempatnya, misalnya pendopo kampus atau selasar kelas. Meskipun gua tipe orang yang suka berteman ke mana-mana, tapi pasti ada, sih, temen yang dipegang terus.

3.     
Gimana caranya kamu bisa masuk ke wilayah tongkrongan itu?

Diajakin senior, sih. Sebenarnya, sih, semuanya diajak untuk ngumpul di satu tongkrongan, tapi nanti pada akhirnya, gue yang memilih lebih cocok ke tongkrongan yang mana. Organisasi juga berpengaruh banget. Misalnya BEM atau lembaga pers mahasiswa kayak yang gua ikutin. Meskipun di organisasi kami harus bekerja secara profesional, untuk menjalin kedekatan dan feeling antaranggota di organisasi, kami pasti curhat-curhatan.

4.     
Ospek di tempat kamu seperti apa sih?

Kalau di tempat gue, namanya bukan ospek. Namanya, masa pengenalan akademik. Ya, kayak gitu sih, misalnya dipakaikan kostum aneh. Ada tahapannya di tingkat jurusan, biasanya lebih kekeluargaan. Ospek ini buatan kampus, panitianya mahasiswa. Nah, tujuannya untuk memperkenalkan kehidupan kampus. Tapi yang terjadi, karena masih terbawa masa lalu, jadi disuruh bikin macam-macam yang nggak ada hubungannya dengan perkuliahan.

5.     
Ada cara untuk menghindari senioritas?

Kalo gue, sih, biasanya manggil senior pakai nama aja, nggak pakai “kakak”. Soalnya, udah terbiasa juga di organisasi yang tidak memperbolehkan memanggil “kakak”. Harus panggil nama. Tujuannya memutus senioritas gitu.

6.     
Hubungan kamu dengan junior bagaimana?

Biasa saja. Bertemunya paling cuma di kelas yang kebetulan sekelas sama mereka. Kadang senior tuh suka “merasa” kita nggak mau menyapa junior. Gua termasuk beruntung punya senior yang suka menyapa duluan, jadi hubungan bisa baik. Tapi, nggak semua orang punya mental yang bersedia mengajak junior duluan, kan. Intensitas komunikasi itu penting, biar hubungannya bisa semakin dekat. Ketika membuat forum atau diskusi, pasti butuh regenerasi. Jadi, biasanya gua suka ajakin junior gua. Bisa dibilang hubungannya profesionalitas karena ada kebutuhan untuk meneruskan forum atau diskusi ini.

7.     
Kamu merasakan masih ada senioritas di kampus kamu?

Ngerasa
. Kalo di jurusan gua, sih, nggak begitu terasa, tapi pasti ada. Di jurusan lain masih kuat. Misalnya, jurusan olahraga. Di sana, hubungan senior-juniornya berasa banget. Kalau bertemu senior harus menunduk. Yang cowok, kepalanya harus botak di tahun pertama, biar kelihatan bedanya. Mereka memang punya aturan ketat untuk hubungan senior-junior. Kalo soal kenapa, itu mungkin kultur yang dari zaman dulu sudah ada. Tapi, memang di beberapa kampus yang punya jurusan olahraga, kulturnya seperti itu.

8.     
Menurut kamu, senioritas itu perlu nggak, sih?

Nggak perlu. Dalam dunia kampus, kita nggak perlu lagi mikirin hal yang seperti itu. Soalnya, kita sudah terlalu dikelas-kelaskan waktu sekolah. Harusnya sekarang membuka peluang seluasnya untuk bergaul, mengaktualisasi diri, dan itu nggak terbatas sama umur harusnya. Yang paling penting, menjaga hubungan senior dan junior. Fakultas harus menyediakan ranah publik yang baik untuk bisa berinteraksi dan mengaktualisasi diri. Kadang, ada kampus yang melarang tempat tongkrongan. Malahan, sampai ada satu angkatan yang nggak pernah punya tongkrongan. Dilarang sama kajur-nya (kepala jurusan-red). Mungkin tongkrongan dianggap negatif.

9.     
Memang di tongkrongan itu ngapain aja, sih, sampai dipandang negatif?

Itu mungkin pandangan yang subjektif saja. Yang gua rasain, tongkrongan itu banyak banget manfaatnya. Jadi sarana sharing. Misalnya, selesai kuliah apa, terus seniornya cerita. Kalo di tongkrongan gua, biasanya produktif banget. Ada yang main gitar dan ada yang bikin musikalisasi puisi. Banyak hal yang bisa dilakukan di tongkrongan. Cuma sayangnya terlalu banyak pandangan negatif mengenai tongkrongan.

10.  Di tongkrongan itu ada pengotak-kotakkan nggak, sih?
Sepertinya, hal itu terjadi secara alami. Soalnya di gedung kuliah itu pasti, ya, anak jurusan itu yang nongkrong. Tapi ada, sih, tempat yang semuanya bisa ngumpul.  

Biodata

Nama Lengkap: Binar Murgati Pardini
Lahir: 31 Mei 1993
Jurusan, Perguruan Tinggi: Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jakarta
Organisasi: BEM jurusan dan Lembaga Pers Mahasiswa DIDAKTIKA
Hobi: Bertanam
Publish: 17 Juni 2015
Sumber : Sinar Harapan
Penulis/ Editor : Yovita Octafitria

11930 Tayang