SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

Turun Tangan sebagai “Person in Charge”

Metha selalu siap dengan rencana cadangan.

LINE it!
Turun Tangan sebagai “Person in Charge” Sesekali ia merapikan kerudungnya sambil menyisir bagian rambut yang mencuat dengan ujung jari. Cahaya matahari sore agak menyilaukan dari meja makan sebuah restoran cepat saji di bilangan Atrium Senen. Methana Intan Murni menggeser duduknya.

“Saya nggak suka melakukan pekerjaan mepet-mepet deadline karena bisa jadi ada kesibukan lain saat itu,” Metha, sapaan akrabnya, mulai menjelaskan kepribadiannya. “Kalau dikasih tugas, saya punya prinsip memberikan yang terbaik dan total, meskipun dalam beberapa hal nggak suka dengan hal itu,” ujuarnya.

Gadis kelahiran Serang, 27 Desember 1993 ini bergabung dalam divisi social media specialist-community development (SMS-CD) rubrik “Interaksi Penghuni Kampus” (IPK) Sinar Harapan. Bagi Metha, bergabung bersama IPK merupakan kesenangan tersendiri. Selain menambah networking dan belajar banyak hal baru, menyibukkan diri dengan kegiatan produktif sudah menjadi kebiasaannya.

“Saya orangnya nggak mau gabut. Kalau nggak ada kegiatan, saya cari kegiatan. Nah, apalagi bisa bertemu dengan orang-orang yang beragam seperti di IPK,” tutur Metha sambil menyeruput minuman ringannya. Cuaca sore itu agak panas. Kendaraan di sepanjang Jalan Atrium Senen merayap padat.

Metha, yang saat ini menempuh pendidikan di jurusan Manajemen Binus University, mengaku memiliki sifat tidak sabaran. Ia mengeluhkan jika dalam sebuah tim atau kelompok belajar ada rekan yang sulit diajak kerja sama untuk memahami suatu hal, ia sering gereget sendiri. Alhasil, Metha kerap turun tangan sebagai person in charge.

Nggak masalah jika memang harus melakukan yang semestinya tugas orang lain, yang penting konfirmasi. Saya nggak akan menerima teman yang tidak konfirmasi, apalagi molor dari janji,” kata Metha.

Metha juga mengisahkan bahwa dalam beberapa team project, ia sering ambil bagian untuk mem-backup rekannya yang kurang mengerti. Saya berani begitu karena merasa saya ini person in charge for everything, selorohnya sambil tertawa.

Metha yang mengaku hobi makan dan jalan-jalan, berprinsip bahwa seseorang harus mau bekerja keras atas pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab. Prinsip itu membuat gadis yang menghabiskan masa sekolah menengahnya di Qatar ini selalu tampil all out.

Meskipun terpaut jarak lintas negara dengan kedua orang tuanya yang berdomisili di Qatar, sebagai anak sulung Metha termasuk pribadi yang mandiri dan low profile. Di sela-sela waktu kuliahnya, Metha masih menyempatkan diri untuk bekerja paruh waktu.

Urusan proyeksi karier, mahasiswi yang semasa kecil pernah bercita-cita menjadi polisi wanita (polwan) dan perawat ini telah memantapkan hati untuk bekerja di perusahaan multinasional. “Saya ingin karier yang memungkinkan saya ke luar negeri bahkan stay di sana, tutur anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Publish: 04 Juni 2015
Sumber : Sinar Harapan
Penulis/ Editor : David Pratama

6148 Tayang