SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

Lobster, Ayam Hingga Butik Di Tangan Para Agen Perubahan

Seiring berkembangnya zaman, mahasiswa dituntut harus lebih kreatif dan inovatif baik di dalam kampus maupun di luar kampus

LINE it!
Lobster, Ayam Hingga Butik Di Tangan Para Agen Perubahan Selasa, 7 April 2015. Cuaca di Banda Aceh tampak bersahabat kala itu. Amri Sadri Manik, masih sibuk berselancar di dunia maya dan tugas kuliahnya, saat SH datang ke indekosnya. Lelaki kelahiran Rimo, 4 Juli 1993 ini, masih tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Semenjak duduk di bangku kuliah, ternyata ia masih memiliki niat terpendam yang ingin dicapai, yaitu memulai usaha. Banyak hal yang ia utarakan kepada SH akan niatnya itu.
“Sejak awal masuk kuliah, saya ingin memulai usaha. Memulai usaha di bangku kuliah, menurut saya sangat membantu di masa mendatang,” ujar Amri. Menurutnya, banyak pengusaha-pengusaha muda lahir dari mahasiswa. Tak jarang pula dari yang sukses dan mampu survive dangan usahanya.

Atas dasar itulah ia ingin memulai usaha. “Saya sangat tertarik memulai usaha. Saya juga ingin sukses dengan usaha. Banyak mahasiswa yang memulai usaha mendulang kesuksesan. Tapi meskipun demikian, tentu tidak melupakan niat awal kuliah,” tutur pria penggemar grup band Ungu ini.
Kesibukannya di kampus tak lantas membuyarkankan keinginan lamanya itu. Lelaki tambun ini ingin membuka usaha budi daya lobster di daerahnya, Aceh Singkil.

Tentu Amri sudah memiliki dasar dan hitung-hitungan yang rinci sebagai bahan pertimbanagan. “Alasannya, di daerah saya belum ada yang memulai usaha ini. Kondisi dan ketersediaan lahan di Aceh Singkil juga memungkinkan untuk jenis usaha ini,” ujarnya lagi. Jika melihat segmen pasar sekarang, usaha budi daya lobster berpeluang sangat besar dan menjanjikan. Ini mengingat sumber daya alam Aceh yang begitu melimpah, namun belumKetika AK dikelolah secara baik. Terlebih lagi di wilayah Aceh masih minim yang mengembakan untuk jenis usaha seperti ini. Namun, mewujudkan niat tak semudah menggoreskan pena di atas secarik kertas. Hal inilah yang Amri rasakan. Hingga kini sudah empat tahun, niat yang ia “pupuk” ketika baru menginjak bangku kuliah itu belum tercapai juga karena terkendala dana.

Alhasil, niatnya pun masih mengambang di awang-awang kesehariannya. Mahasiswa semester VIII ini pun berharap pemerintah ikut ambil bagian memberika memberikan bantuan berupa dana. “Saya berharap pemerintah memberikan bantuan dana untuk merealisasikan niat ini. Saya hanya punya ide dan gagasan,” ujarnya. Amri nyatanya tak hanya ingin mewujudkan niatnya semata-mata. Ia memiliki keinginan mulia. Ia ingin membuka lapangan pekerjaan, sehingga secara tidak langsung, ia dapat membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran di Indonesia, khususnya di Aceh Singkil. “Dengan adanya usaha ini, mudah-mudahan dapat membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran di Indonesia nantinya,” katanya.

Lain Amri Sadri Manik, lain pula dengan Rivaldi Fadhul Lizar. Jika berbicara wirausaha, ia memiliki keinginan memulai usaha di sektor peternakan. Menurutnya, hingga kini Aceh masih bergantung pada Medan, sebagai pemasok terbesar, untuk memenuhi ketersediaan daging-unggas di wilayah Aceh. “Ini peluang besar bagi saya untuk membuka usaha peternakan, khususnya bisnis unggas (ayam potong).

Ketika di daerah sendiri (Aceh-red) sudah ada, tentu konsumen berpikir dua kali untuk membeli bahan (daging) dari luar Aceh, mengingat biaya yang kian meningkat,” cetusnya.
Berdasarkan hasil polling SH (Sabtu, 4/4) terhadap mahasiswa dari berbagai program studi, 71 persen rasponden yang ingin memulai usaha tidak berkaitan dengan disiplin ilmu yang ia tempuh di bangku kuliah. Sisanya 29 persen responden memilih jenis usaha yang sesuia program studi yang ia tempuh. Artinya, fakta ini menunjukkan, seseorang memulai usaha tidak 100 persen murni dilatarbelakangi pendidikannya. Hobi menjadi salah satu faktor pendorong, yakni gaya hidup (lifestyle).

Hal ini diutarakan Athiatuzakiah. Mahasiswa Tata Busana Unsyiah ini lebih tertarik membuka usaha butik dibandingkan usaha-usaha lainnya. “Jika punya modal, saya akan membuka butik. Saya lebih tertarik ke situ (tata busana). Jadi, kalau ada modal memulai usaha, pasti saya pilih butik, karena lebih klop dengan hobi saya,” ujarnya. Gadis yang juga aktif di Lembaga Pers Kampus DETaK Unsyiah ini, juga memiliki memiliki hobi fashion.

Fashion memang jadi hobi saya. Kuliah saya ambil jurusan tata busana. Jadi, kalaupun saya buka usaha butik, fashion jadi salah satu alasannya,” katanya sambil tersenyum.
Dunia kewirausahaan memang sangat erat kaitanya dengan modal. Dalam memulai usaha, yang paling vital adalah modal. Modal menjadi fondasi awal ketika memulai usaha. Jika sudah memutuskan terjun ke dunia wirausaha, tentu kita harus menghitung secara rinci dan matang, mulai dari modal, jenis usaha, peluang usaha, penjualan, hingga prospek ke depannya. Banyak orang nekat dan memberanikan diri untuk memulai usaha. Tentu keberanaian itu disertai perencanaan matang didukung ide dan gagasan yang cermerlang. Kini banyak pengusaha muda bermunculan dan menunjukkan taringnya di dunia kewirausahaan.

Tak jarang pengusaha muda itu lahir dari kalangan mahasiswa. Seiring berkembangnya zaman, mahasiswa dituntut harus lebih kreatif dan inovatif baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Mahasiswa mau tidak mau harus menguasai disiplin ilmu secara komprehensif. Bukan pada hard skill saja, tetapi disertai juga dengan soft skill mumpuni, sehingga julukan sebagai agent of change itu bukan retorika belaka, namun terlihat secara nyata dan jelas. Tentu kemampuan itu bisa diimplementasikan di dunia kewirausahaan. Mahasiswa memang masih berkutat dengan dinamika kampus.

Mahasiswa memang masih duduk di bangku kuliah. Namun, mahasiswa tentu memiliki keinginan untuk memulai usaha juga. Julukan agent of change pada mahasiswa terlihat dengan ratusan bahkan jutaan ide dan gagasan cemerlang tat kala ingin memulai kewirausahaan.
Ketika paara agent of change mimiliki niat berwirausaha tentu harus didukung penuh, tak terkecuali pemerintah. Modal memang jadi suntikan “energi” yang susah didapat. Mereka hanya bisa memupuk mimpi dan menjaga harapan itu. Jika pemerintah tak acuh akan hal itu. Semoga pemerintah memperhatikan dan melihat cita-cita baik Amri, Rivaldi, Athiatuzakiah, dan jutaan generasi bangsa lainnya guna kemaslahatan dan kesejahtraan di masa mendatang. Semoga saja. (*)



Publish: 16 April 2015
Sumber : Sinar Harapan
Penulis/ Editor : Murti Ali Lingga

3036 Tayang