SERUNYA NGGAK KEULANG

Interaksi Penghuni Kampus

Bagaimana perasaan lu saat ini?

Pekerja Sosial Memasuki MEA 2015

Pasar Bebas ASEAN adalah momen penting bagi keberadaan profesi peksos.

LINE it!
Pekerja Sosial Memasuki MEA 2015 JAKARTA - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri menegaskan, Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) harus meningkatkan kualitas pendidikan sehingga dapat menghasilkan pekerja sosial (peksos) yang berkompeten dan profesional dalam menghadapi Pasar Bebas ASEAN (MEA) 2015.
    
“MEA sebagai momen penting bagi keberadaan profesi peksos. Peluang dan tantangan yang besar bagi peksos Indonesia untuk memasuki area peksos internasional dengan syarat mampu meningkatkan kapasitas kompetitif,” ujar Salim Segaf Al Jufri dalam siaran pers yang diterima SH, di Jakarta, Rabu (15/10).

Mensos mengatakan, setiap peksos dan STKS sebagai bagian dari MEA dituntut bisa berperan aktif di lingkup global dan tidak bisa menghindar, tetapi harus dihadapi sebagai bagian dari perubahan, tantangan, dan peluang.

Para ahli peksos di berbagai negara melihat pentingnya praktik berbasis bukti. Berdasarkan penelitian, kepuasan para penerima manfaat turut meningkat, serta mendorong peksos profesional memperbaiki kualitas pelayanan dan program yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“STKS dituntut meningkatkan kualitas agar mampu menghasilkan peksos berkompeten dan profesional.  Peksos menjadi faktor strategis dalam perubahan sosial masyarakat. Jadi, dalam pergaulan global yang difasilitasi organisasi-organisasi internasional telah mendorong pendidikan peksos melibatkan diri dalam perubahan tersebut, ” tuturnya.

Menurutnya, permasalahan sosial semakin kompleks dan dinamis sehingga menuntut tersedianya sumber daya manusia (SDM) andal di bidang peksos.

Selain itu, STKS harus meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitasnya, khususnya mengembangkan kompetensi pendidikan peksos sesuai kebutuhan dalam konteks lokal, nasional, maupun internasional. Bagi para dosen, mahasiswa, dan lulusan STKS perlu elalu melakukan kajian atau penelitian yang lebih inovatif tentang berbagai metode penanganan masalah kesos serta melakukan praktik berbasis bukti evidence based practice (EBP).

Salim menambahkan, saat ini STKS telah memenuhi kebutuhan peksos hampir 12.000 dari kebutuhan peksos 155.000 orang. Namun, masih banyak warga yang belum mengenal profesi ini dan hasil kerja peksos.

Menurutnya, peksos harus meyakinkan pasar kerja dan masyarakat bahwa mereka tenaga profesional yang mampu mengatasi masalah sosial, menjadi agen perubahan, serta memberdayakan masyarakat.
Publish: 15 Oktober 2014
Sumber : Sinar Harapan
Penulis/ Editor : Stevani Elisabeth

2670 Tayang